Jumat, 01 Juli 2016

Laporan Praktiku Kimia Organik Sabun Transparan


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Di Indonesia masih sedikit terdapat industri yang menggunakan minyak kelapa sawit sebagai bahan baku yang diproses untuk menghasilkan suatu produk. Salah satu industri yang menggunakan minyak kelapa sawit sebagai bahan baku adalah industri pembuatan sabun. Sabun merupakan suatu kebutuhan pokok manusia yang selalu digunakan sehari-hari. Fungsi utama dari sabun adalah membersihkan.
Sabun transparan atau disebut juga sabun gliserin adalah jenis sabun mandi yang dapat menghasilkan busa lebih lembut di kulit dan penampakanya berkilau jika dibandingkan dengan jenis sabun yang lain seperti sabun mandi biasa (opaque) dan sabun translucent. Sabun tranparan yang menarik, mewah dan berkelas menyebabkan sabun transparan dijual dengan harga yang relatf lebih mahal. Pendirian sabun industri transparan merupakan salah satu jenis usaha yang cukup menjanjikan mengingat pasar sabun transparan masih jenuh dan terbuka lebar.
Adapun aplikasi sabun transparan pada saat ini mulai berkembang pesat, penggunaan sabun cair juga telah meluas, terutama pada sarana-sarana publik. Di negara berkembang, deterjen sintetik telah menggantikan sabun sebagai alat bantu mencuci. Sabun transparan merupakan salah satu produk industri kimia yang sangat dibutuhkan masyarakat, maka perlu adanya percobaan untuk bisa dikembangkan selanjutnya dalam skala industri yang lebih besar.
1.2  Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari percobaan ini yaitu penentuan massa sabun, tingkat kekerasan sabun, dan rendemen sabun transparan dari  hasil percobaan.
1.3  Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan sabun transparan ini adalah untuk mengetahui massa sabun, tingkat kekerasan sabun dan rendemen sabun transaparan dari hasil percobaan.           
1.4  Ruang Lingkup Percobaan
Ruang Lingkup dari percobaan ini terdiri dari metode percobaan, bahan yang digunakan dan tempat pelaksanaan percobaan. Adapun metode yang di gunakan dalam praktikum ini adalah metode saponifikasi, dengan menggunakan bahan asam stearat, etanol, gliserin, minyak, natrium hidroksida, pewangi, pewarna, dan glukosa. Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Rekayasa Produk dan Integrasi Proses FT. UNTIRTA.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sabun
       Sabun adalah pembersih yang dibuat dengan reaksi kimia antara basa Natrium atau kalium dengan asam lemak dari minyak nabati atau hewani. Sabun termasuk kebutuhan pokok manusia.Sabun adalah garam alkali dari asam-asam lemak telah dikenal secara umum oleh masyarakat karena merupakan keperluan penting di dalam rumah tangga sebagai alat pembersih dan pencuci. Kandungan zat-zat yang terdapat pada sabun juga bervariasi sesuai dengan sifat dan jenis sabun.Zat-zat tersebut dapat menimbulkan efek, baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. Sabun dihasilkan oleh proses saponifikasi, yaitu hidrolisis lemak menjadi asam lemak dan glisrol dalam kondisi basa. Pembuat kondisi basa yang biasanya digunakan adalah NaOH (natrium/sodium hidroksida) dan KOH (kalium/potasium hidroksida).Asam lemak yang berikatan dengan natrium atau kalium inilah yang kemudian dinamakan sabun.Sabun digunakan sebagai pembersi baik untuk tubuh atau peralatan lainnya. Sabun dibagi menjadi tiga kelompok besar yaitu sabun cream, sabun batang, dan sabun cair. Sabun batang dikelompokkan menjadi tiga yaitu sabun opaque, sabun transparan, dan sabun translucent. Ketiga jenis ini dibedakan berdasarkan penampakannya [1].
2.2 Macam – Macam Sabun
       Macam-macam sabun sebagai berikut:
1.    Sabun Transparan
Sabun transparan ini merupakan sabun tembus pandang yang tampilannya jernih dan cenderung memiliki kadar rendah. Sabun ini mudah sekali larut karena mempunyai sifat sukar mengering.
2.    Castile Soap
Sabun yang terbuat dari olive oil ini untuk formulanya aman dikonsumsi karena tidak mengandung lemak hewani sama sekali.
3.    Deodorant Soap
Sabun ini bersifat sangat aktif untuk menghilangkan aroma tak sedap pada bagian tubuh. Tidak dianjurkan untuk kulit wajah karena memiliki kandungan yang cukup keras yang dapat menyebabkan kulit teriritasi.
4.    Acne Soap
Sabun ini dikhususkan untuk membunuh bakteri-bakteri pada jerawat. Seringkali sabun jerawat ini mengakibatkan kulit kering bila pemakaiannya di barengi dengan  penggunaan produk anti acne lain.
5.    Cosmetic Soap atau Bar Cleanser
Sabun ini memiliki formula khusus seperti pemutih. Cosmetic soap biasanya memfokuskan formulanya untuk memberi hasil tertentu.
6.    Superfatted Soap
Sabun ini memiliki kandungan minyak dan lemak lebih banyak sehingga terasa lembut dan kenyal. Sabun ini sangat cocok digunakan untuk kulit kering karena di dalamnya terdapat kandungan gliserin, petrolium dan beeswax yang dapat melindungi kulit dan mencegah iritasi serta jerawat.
7.    Oatmeal Soap
Sabun yang terbuat dari gandum ini mempunyai kandungan anti iritasi. Sabun gandum ini lebih baik dalam menyerap minyak, menghaluskan kulit kering dan sensitif.
8.    Natural Soap
Sabun alami ini memiliki formula yang sangat lengkap seperti vitamin, ekstrak buah, minyak nabati, ekstrak bunga, aloe vera dan essential oil [2].
2.3 Sabun Transparan
       Sabun adalah bahan yang digunakan untuk mencuci dan mengemulsi, terdiri dari dua komponen utama yaitu asam lemak dengan rantai karbon C16 dan sodium atau potasium. Sabun merupakan pembersih yang dibuat dengan reaksi kimia antara kalium atau natrium dengan asam lemak dari minyak nabati atau lemak hewani. Sabun yang dibuat dengan NaOH dikenal dengan sabun keras (hard soap), sedangkan sabun yang dibuat dengan KOH dikenal dengan sabun lunak (soft soap). Sabun dibuat dengan dua cara yaitu proses saponifikasi dan proses netralisasi minyak. Proses saponifikasi minyak akan memperoleh produk sampingan yaitu gliserol, sedangkan proses netralisasi tidak akan memperoleh gliserol. Proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara trigliserida dengan alkali, sedangkan proses netralisasi terjadi karena reaksi asam lemak bebas dengan alkali [3]
       Sabun merupakan senyawa garam dari asam-asam lemak tinggi, seperti natrium stearat, C17H35COO-Na+. Aksi pencucian dari sabun banyak dihasilkan dari kekuatan pengemulsian dan kemampuan menurunkan tegangan permukaan dari air. Konsep ini dapat di pahami dengan mengingat kedua sifat dari anion sabun [4].
       Sabun transparan merupakan sabun yang memiliki tingkat transparansi paling tinggi dan menghasilkan busa lebih lembut dikulit serta dapat memancarkan cahaya yang menyebar dalam bentuk partikel – partikel yang kecil, sehingga obyek yang berada diluar sabun akan kelihatan jelas. Obyek dapat terlihat hingga berjarak sampai panjang 6 cm [5].
       Sabun transparan mudah sekali larut karena mempunyai sifat sukar mengering. Faktor yang mempengaruhi transparansi sabun pada pembuatan sabun transparan adalah :
a.    Etanol
Kandungan alkohol Etanol digunakan sebagai pelarut pada proses pembuatan sabun transparan karena sifatnya yang mudah larut dalam air dan lemak.
b.    Gula
Gula bersifat humektan, dikenal membantu pembusaan sabun. Semakin putih warna gula akan semakin jernih sabun transparan yang dihasilkan. Terlalu banyak gula,  produk sabun menjadi lengket, pada permukaan sabun keluar gelembung kecil-kecil. Gula yang paling baik untuk sabun transparan adalah gula yang apabila dicairkan  berwarna jernih seperti gliserin, karena warna gula sangat mempengaruhi warna sabun transparan akhir. Gula lokal yang berwarna agak kecoklatan, hasil sabun akhir  juga tidak bening, jernih tanpa warna tetapi juga agak kecoklatan.
c.    Gliserin
Gliserin adalah produk samping dari reaksi hidrolisis antara minyak nabati dengan air untuk menghasilkan asam lemak. Gliserin merupakan humektan sehingga dapat  berfungsi sebagai pelembap pada kulit. Pada kondisi at mosfer sedang ataupun pada kondisi kelembaban tinggi, gliserin dapat melembapkan kulit dan mudah di bilas.
       Ketika sabun akan dibuat jernih dan bening maka hal yang paling essensial adalah kualitas gula, dan glyserin. Oleh karena itu pemilihan material mempertimbangkan dengan warna dan kemurniannya. Parfum berperan penting dalam warna sabun seperti adanya tincture, balsam dan yang digunakan agar sabun menjadi wangi, adanya bahan tersebut dapat menjadikan spotting ( bintik hitam ). Apabila sabun sengaja diwarna, dipilih pewarna yang tahan alkali.Air distilasi adalah air terbaik untuk sabun transparan glyserin dipilih yang murni.Untuk minyak dan lemak digunakan yang asam lemak bebas rendah dan warna yang baik. Penambahan glyserin atau gula yang banyak menyebabkan sabun menjadi lengket dan manis, oleh karena itu mengotori pembungkus. Untuk memperoleh transparansi sabun berikut ini adalah metode yang umum digunakan 
a.       Transparan karena gula.
b.      Transparan karena glyserin dan energy.
c.       Dimana a dan b digabung dengan menggunakan minyak castor.
d.      Transparansi karena asam lemak dalam sabun dan seberapa kali sabun dimill.
       Dengan metode pertama, kandungan minyak kelapa sedikitnya adalah 25 %, lemak yang lain adalah tallow atau lemak apa saja yang dapat menjadikan sabun keras. Sabun dididihkan dan dimasak seperti biasanya lalu dimasukkan dalam pengaduk untuk dicampur dalam larutan yang mengandung 10 – 20 % gula sesuai berat sabun.Gula dilarutkan dalam air dan larutan dipanasi sampai 600C kemudian perlahan – lahan ditambahkan dalam sabun.Manakala air menguap, sabun jenis tersebut menunjukkan bintik – bintik dan menjadi lengket karena gula menembus permukaan larutan.
       Sabun transparan dari kategori yang kedua dapat disaponifikasikan sebagaimana biasanya dan dibuat dari sabun mandi dasar. Sabun dimasukkan dalam mixer dan dicampur 96 % dengan perbandingan satu bagian dalam dua bagian total asam lemak dalam sabun, bersama glyserin dengan proporsi yang sama.
       Metode yang ketiga minyak castor sendiri digunakan untuk membuat sabun atau lebih dari sepertiga lemak dapat ditambah utnuk setiap sabun dasar diatas.Jika minyak castor yang digunakan hanya perlu 2 % atau 3 % gula.
       Metode yang terkhir kombinasi dari tallow (lemak) 75 % , minyak kelapa 20% , rosin jernih 5 %. Selanjutnya dengan proses saponifikasi dan perampungan dengan cara pemanasan. Sabun selanjutnya dimasukkan dalam ketel berjaket dan diolah sesuai dengan pemanasan sempurna.
       Kebanyakan sabun transparan dibuat dengan cara semi panas, metodenya lebih sederhana dan mudah. Langkah awalnya adalah memasukkan lemak dan minyak dalam ketel, dipanasi sampai 600 C. Sabun scrap yang sudah dibuat dapat dicairkan dalam lemak yang panas jika diinginkan. Ditambahkan larutan soda yang sudah dibuat. Masa diaduk sampai terjadi proses saponifikasi. Setelah itu sabun ditutup dan dibiarkan selama 2 jam atau sampai pada tengahnya ada tonjolan. Kemudian larutan gula dimasukkan dan akhirnya dan glyserin. Temperatur dari massa dinaikkan sampai 600C.
2.4 Kandungan Sabun Transparan
       Di dalam sabun transparan tergantung senyawa senyawa berikut [6].
1)      Minyak Sawit
Sering di pakai dalam pembuatan sabun, namun beberapa dari kita ada yang alergi dengan minyak kelapa sawit karena ada reaksi minyak wangi dengan minyak kelapanya atau cenderung pemakai tidak tahan fragrantnya (minyak wangi sintetis), dengan minyak kelapa menghasilkan busa yang banyak.
2)      Sodium Hidroksida.
Sabun terbuat dari sodium hidroksida dimana sangat kaustik, sampai selesainya reaksi dengan minyak kemudian menjadi sabun dikenal dengan nama reaksi saponifikasi. Sodium harus terurai sempurna dalam proses saponifikasi minyak, oleh karena itu tidak akan ada bahan kaustik yang tertinggal dalam sabun. Agar produk sabun sempurna maka sabun harus dicuring dan rebatching sebelum penambahan emollien, moisturizer dan minyak essensial. “Fully Curing” berarti sodium hidroksida benar benar terurai sempurna selama proses saponifikasi dan tidak bereaksi dengan emollien, moisturizer dan minyak essensial. “ Rebatching” berarti sabun base diparut, dilelehkan kemudian ditambah bahan lainnya, selanjutnya dimasukkan dalam cetakkan. Dengan cara begitu akan menghasilkan produk sabun yang lebih baik dari pada proses yang tidak menggunakan rebatching.
3)      Alkohol
Adalah bahan yang digunakan untuk melarutkan sabun, agar sabun menjadi bening atau transparan. Kemurnian alkohol 95% yang mempunyai titik nyala yang rendah maka tidak sulit untuk menyalakannya. Penggunaan kompor gas dan kompor listrik harus dengan hati hati, karena dapat membakar alkohol langsung. Untuk terjadi transparansi sabun harus benar larut. Alkohol dengan level yang tinggi dan kandungan air yang rendah menghasilkan produk sabun yang lebih jernih.
4)      Glyserin
Sudah lama digunakan sebagai humectan (penjaga kelembaban kulit) dan sampai saat ini digunakan secara meluas oleh pembuat sabun. Apabila didehidrasi dan dideodorisasi, glyserin menjadi cairan tak berwarna dan tak berbau. Glyserin kurang menentukan kejernihan sabun, rasanya manis membakar.
5)      Gula
Bersifat humectan, dikenal membantu pembusaan sabun. Semakin putih warna gula akan semakin jernih sabun transparan yang dihasilkan. Terlalu banyak gula, produk sabun menjadi lengket , pada permukaan sabun keluar gelembung kecil – kecil. Gula yang paling baik untuk sabun transparan adalah gula yang apabila dicairkan berwarna jernih seperti gliserin, karena warna gula sangat mempengaruhi warna sabun transparan akhir. Gula lokal yang berwarna agak kecoklatan, hasil sabun akhir juga tidak bening, jernih tanpa warna tetapi juga agak kecoklatan. Penggunaan gula sebagai penjernih sabun harus memperhatikan reaksi yang terjadi. Beberapa reaksi yang dapat menyebabkan gula menjadi tidak jernih adalah:
§  Karamelisasi, pemanasan gula sampai suhu tinggi.
§  Reaksi Maillard, reaksi antara gula, asam amino dan panas.
§  Reaksi dengan vitamin C.
Ketiga reaksi diatas akan merubah sabun menjadi agak coklat hal tersebut dapat diatasi dengan penambahan bahan squesteran.     
6)      Stearic Acid.
Membantu untuk mengeraskan sabun, khususnya minyak dari tumbuhan yang digunakan. Penggunaannya dengan mencairkan dahulu dalam minyak kemudian dicampur sodium hidroksida untuk saponifikasi. Penggunaan terlalu banyak menyebabkan sabun kurang berbusa, jika terlalu sedikit sabun tidak keras.
7)      Pewarna
Perlu di pertimbangkan untuk penggunaan pigmen mineral (ocher atau oksida) pewarna kain atau sintetik , hal itu dapat tidak sejalan dengan pewarnaan kulit, karena :
§  Pigmen dan ocher adalah oksida logam dan mineral yang di tambahkan ke sabun, lotion, cream agar warnanya seragam. Hal itu kan beracun masuk ke dalam kulit.
§  Dyes lilin atau pewarna malam di gunakan juga untuk mewarnai sabun khususnya gliserin, penggunaan warna itu akan merugikan kulit.
§  Pewarna kain sudah jelas bersifat karsinogenik bagi kulit.
Jadi bahan yang aman dalam pewarnaan adalah pewarna makanan, minuman, kosmetik.
8)      Pewangi
            Fragran merupakan pewangi sintetik di desain secara kimia dengan kata lain di rancang di laboratorium kimia tidak asli dari alam, namun beberapa dari kita  alergi terhadap fragran sintetik oleh karena itu masyarakat kebanyakan memilih sabun tanpa pewangi tubuh. Sabun tanpa pewarna dan pewangi digunakan untuk merawat wajah.
9)     Coco DEA (TEA)
Cocamide DEA digunakan untuk meningkatkan kualitas foaming (busa yang terbentuk) serta menstabilkan busa, selain itu cocamide DEA membantu mengentalkan produk seperti shampo, handsoap, serta sediaan kosmetik yang lain.
2.5 Proses Pembuatan Sabun
       Sabun dapat dibuat melalui dua proses, yaitu: 
a.  Saponifikasi
       Saponifikasi melibatkan hidrolisis ikatan ester gliserida yang menghasilkan pembebesan asam lemak dalam bentuk garam dan gliserol. Garam dari asam lemak berantai panjang adalah sabun.
       Saponifikasi adalah reaksi yang terjadi ketika minyak atau lemak dicampur dengan larutan alkali. Dengan kata lain saponifikasi adalah proses pembuatan sabun yang berlangsung dengan mereaksikan asam lemak dengan alkali yang menghasilkan air serta garam karbonil (sejenis sabun). Sabun merupakan salah satu bahan yang digunakan untuk mencuci baik pakaian maupun alat-alat lain. Alkali yang biasanya digunakan adalah KOH.
       Ada dua produk yang dihasilkan dalam proses ini, yaitu sabun dan gliserin. Secara teknik, sabun adalah hasil reaksi kimia antara asam lemak dan alkali. Selain C12 dan C16, sabun juga disusun oleh gugusasam karboksilat. Hidrolisis ester dalam suasana basa bisa disebut juga saponifikasi [7].

       Reaksi kimia pada proses saponifikasi adalah sebagai berikut:






Gambar 1. Proses saponifikasi
b.    Netralisasi
Netralisasi adalah proses untuk memisahkan asam lemak bebas dari minyak atau lemak, dengan cara mereaksikan asam lemak bebas dengan basa atau pereaksi lainnya sehingga membentuk sabun [8].
Reaksi kimia pada proses saponifikasi adalah sebagai berikut:


           




Gambar 2. Proses netralisasi
2.6 Mekanisme Reaksi Pembuatan Sabun
Sabun memiliki kemampuan untuk mengemulsi kotoran berminyak sehingga dapat dibuang dengan pembilasan. Kemampuan ini disebabkan oleh dua sifat sabun adalah:
1.      Rantai hidrokarbon sebuah molekul sabun larut dalam zat non-polar, seperti tetesan-tetesan minyak.
2.      Ujung anion molekul sabun, yang tertarik pada air, ditolak oleh ujung anion molekul-molekul sabun yang menyembul dari tetesan minyak lain. Karena tolak-menolak antara tetes sabun-minyak, maka minyak itu tidak dapat saling bergabung tetapi tetap tersuspensi [8].
Berikut adalah mekanisme reaksi pada proses pembuatan sabun transparan :













                                                                                                                       












Gambar 3. Mekanisme reaksi pembentukan sabun
2.7    Sifat Kimia dan Fisika Sabun
1.  Sifat Fisika
      Sabun memiliki kelarutan yang tinggi dalam air, tetapi sabun tidak larut menjadi partikel yang lebih kecil, melainkan larut dalam bentuk ion. Sabun dan detergen merupakan agen pengemulsi yang paling efektif, khususunya untuk emulsi minyak-air. Minyak dalam air merupakan emulsi dengan minyak sebagai fase terdispersi dan air sebagai fase pendispersi.
2.  Sifat Kimia
a.      Sabun adalah garam alkali dari asam lemak suku tinggi sehingga akan dihidrolisis parsial oleh air. Karena itu larutan sabun dalam air bersifat basa.
              CH3(CH2)16COONa + H2O à CH3(CH2)16COOH + OH-
b.      Jika larutan sabun dalam air diaduk maka akan menghasilkan buih, peristiwa ini tidak akan terjadi pada air sadah. Dalam hal ini sabun dapat menghasilkan buih setelah garam-garam Mg atau Ca dalam air mengendap.
                CH3(CH2)16COONa + CaSO4  à  Na2SO4 + Ca(CH3(CH2)16COO)2
c.       Sabun mempunyai sifat membersihkan. Sifat ini disebabkan proses kimia koloid, sabun (garam natrium dari asam lemak) digunakan untuk mencuci kotoran yang bersifat polar maupun non polar, karena sabun mempunyai gugus polar dan non polar. Molekul sabun mempunyai rantai hydrogen CH3(CH2)16 yang bertindak sebagai ekor yang bersifat hidrofobik (tidak suka air) dan larut dalam zat organik sedangkan COONa+ sebagai kepala yang bersifat hidrofilik (suka air) dan larut dalam air.
d.      Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan. Banyak sabun merupakan campuran garam natrium atau kalium dari asam lemak yang dapat diturunkan dari minyak atau lemak dengan direaksikan dengan alkali (seperti natrium atau kalium hidroksida) [9].




BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Diagram Alir
Diagram alir dari pratikum sabun transparan ini adalah sebagai berikut:
17,5 gram asam stearat
 
Mencampurkan dalam lelehan asam stearat dan meletakan magnetic stirrer didalamnya

Gelas Beker
Melelehkan pada suhu 60◦ C pada Hot Plate

50 Ml minyak
Mencampurkan secara perlahan lahan setelah homogen  dengan suhu konstan 70 C

25 Ml NaOH
Mengaduk hingga proses safonifikasi sempurna

Mencampurkan hingga homogen sambil terus diaduk

Mematikan pengontrol sampai 40◦ C

Mencetak Sabun

30 Ml etanol
6 ml Gliserin
28 gr glukosa
Menguji pH dan Mutu sabun

 

























Gambar 4. Diagram Alir pembuatan sabun transparan


3.2 Alat dan Bahan
       3.2.1 Alat
Alat yang digunakan dalam pratikum sabun transparan ini adalah
a.       Batang pengaduk                                 1 buah                        
b.      Botol aquadest                                     1 buah
c.       Cetakan sabun                                      1 buah
d.      Gelas arlogi                                           1 buah
e.       Gelas Beker 500 ml                              1 buah
f.       Gelas Beker 250 ml                              3 buah
g.      Gelas Ukur 25 ml                                 1 buah
h.      Gelas Ukur 50 ml                                 1 buah
i.        Hot Plate                                              1 buah            
j.        Magnetik stirer                                     1 buah
k.      Neraca Analitik                                                1 buah
l.        Pipet tetes                                             1 buah
m.    Pipet volume                                         1 buah
n.      Spatula                                                  1 buah
o.      Termometer                                          1 buah
3.2.2 Bahan
                 Bahan yang digunakan dalam praktikum sabun transparan ini adalah
a.       Aquadest                                              50 ml
b.      Asam stearat                                         17,5 gram
c.       Etanol                                                   30 ml              
d.      Gliserin                                                 6 ml    
e.       Minyak                                                 50 ml
f.       Natrium Hidroksida                             8 gram
g.      Pewangi                                                2 ml
h.      Pewarna
i.        glukosa                                                 28 gram
3.3 Prosedur Percobaan
  A. Preparasi bahan
Pertama tama kita menyiapkan bahan-bahan yang digunakan seperti menimbang 17,5 gram asam stearat,kemudian menimbang 8 gram NaOH dan melarutkan dengan aquadest sebanyak 25 mL. Setelah itu menyiapkan 50 mL minyak, 30 mL etanol 96% dan 6 mL glyserin, kemudian menimbang 28 gram glukosa dan dilarutkan dalam 28 mL aquadest diatas penangas air.
B. Pembuatan Sabun
     Setelah menyiapkan semua bahan, langkah pertama adalah Melehkan asam stearat pada suhu 60˚C di dalam beakerglass 400 mL di atas hotplate (suhu dijaga constant), kemudan memasukkan magnetic stirer (atur putaran sedang lebih dulu) dan minyak ke dalam lelehan asam stearat, lalu memasukkan larutan NaOH sedikit demi sedikit sambil terus dipanaskan dengan suhu 70˚C (dijaga konstant) dan diaduk sampai proses saponifikasi sempurna (terbentuk larutan yang semipadat), setelah itu memasukkan etanol sedikit demi sedikit (wadah dijaga, jika campuran meluap, keluarkan wadah dari hotplate), gliserin, dan larutan glukosa sambil terus diaduk sampai campuran menjadi homogen kemuadian mematikan pengontrol suhu lalu tambahkan pewarna dan pewangi dilakukan pada suhu 40˚C. Menuangkan campuran ke dalam cetakan (ambil bagian yang transparan saja) dan diamkan selama 24 jam hingga sabun mengeras. Lalu mengeluarkan sabun yang sudah mengeras dari cetakan.
C. Pengujian Mutu Sabun Batangan
Untuk pengujian transparansi dilakukan dengan menggunakan visual. Sedangkan tingkat kekerasannya cukup dengan cara manual yaitu menggunakan tangan saja. Berbeda dengan pengukuran pH yaitu dengan melarutkan sedikit sabun (± 0,5 gram) menggunakan pelarut universal (air) dan dicek menggunakan indikator universal. pH yang baik berkisar antara 8-10.
3.4  Gambar Alat
           

1
3
5
4
2
 









Gambar 5. Rangkaian Alat proses pembuatan sabun transparan
Keterangan gambar     :
1.      Batang Pengaduk
2.      Gelas Beker
3.      Thermometer
4.      Hot Plate
5.      Magnetic Stir
3.5  Variabel Percobaan
       Variabel percobaan pada pembuatan sabun transparan meliputi variabel tetap dan variabel berubah. Adapun variabel tetap dalam praktikum ini  yaitu asam stearate, minyak, NaOH, etanol, gliserin, dan gula.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Percobaan
      Berikut ini merupakan hasil dari percobaan sabun transparan
Tabel 1. Data Hasil Percobaan Sabun Transparan
Data
Hasil
Berat Sabun
96,5 gram
Warna
Oranye
Bau
Lemon
pH
9
Busa
Berbusa
Transparansi
Cukup Transparan

4.2 Pembahasan
      Pada percobaan sabun transparan ini metode yang digunakan adalah metode saponifikasi. Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya basa lemah (misalnya NaOH). Hasil lain dari reaksi saponifikasi ialah gliserol. Selain C12 dan C16, sabun juga disusun oleh gugus asam karboksilat. Hidrolisis ester dalam suasana basa bisa disebut juga saponifikasi.
     Reaksi kimia pada proses saponifikasi adalah sebagai berikut:







        Dalam percobaan ini bahan yang pertama dimasukan ke dalam gelas beker adalah asam stearate yang kemudian dilelehkan, fungsi untuk membantu mengeraskan sabun dan menstabilkan busa, khususnya minyak dari tumbuhan yang digunakan. Penggunaannya dengan mencairkan dahulu diatas hot plate. Setelah semua cair bahan yang dimasukan lainnya adalah minyak dimana fungsi minyak merupakan bahan utama dalam pembuatan sabun.
       Setelah minyak dan asam stearat larut secara homogen kemudian ditambahkan NaOH secara perlahan lahan-lahan, fungsi penambahan NaOH yaitu sebagai basa alkali. Natrium hidroksida bereaksi dengan minyak membentuk sabun yang disebut dengan saponifikasi, Penambahan Larutan NaOH berfungsi sebagai penetralisir asam karena NaOH bersifat basa. Basa yang digunakan adalah NaOH agar diperoleh sabun yang padat. Setelah sempurna proses saponifikasi kemudian ditambahkan etanol dan gliserin. Fungsi dari penambahan Etanol adalah  sebagai pelarut untuk mencairkan kembali campuran asam sterat, minyak dan natrium hidroksida (NaOH) yang telah semi padat supaya gliserin dan glukosa dapat tercampur sempurna di dalamnya. Selain itu etanol juga berfungsi untuk membentuk tekstur transparan sabun, Untuk terjadi transparansi sabun harus benar larut. Etanol dengan level yang tinggi dan kandungan air yang rendah menghasilkan produk sabun yang lebih jernih [10]. Sedangkan pada pembuatan sabun transparan, gliserin berfungsi untuk menghasilkan penampakan yang transparan dan memberikan kelebembaban pada kulit (humektan). Humektan (moisturizer) adalah skin conditioning agents yang dapat meningkatkan kelembaban kulit. Pada kondisi atmosfir sedang ataupun pada kondisi kelembaban tinggi, gliserin dapat melembabkan kulit dan mudah dibilas.
       Setelah menambahkan etanol dan gliserin kedalam sabun, kemudian menambahkan glukosa kedalam larutan sabun tersebut, dimana glukosa ini merupakan bahan penting dalam pembuatan sabun transparan. Glukosa atau lebih dikenal dengan gula pasir berfungsi untuk membantu terbentuknya transparansi pada sabun. Penambahan gula pasir dapat membantu perkembangan kristal pada sabun. Semakin putih warna gula akan semakin jernih sabun transparan yang dihasilkan. Terlalu banyak glukosa, produk sabun menjadi lengket , pada permukaan sabun keluar gelembung kecil – kecil. Gula yang paling baik untuk sabun transparan adalah gula yang apabila dicairkan berwarna jernih seperti gliserin, karena warna gula sangat mempengaruhi warna sabun transparan akhir. Gula lokal yang berwarna agak kecoklatan, hasil sabun akhir juga tidak bening, jernih tanpa warna tetapi juga agak kecoklatan [11].Selain itu dalam percobaan ini sabun yang didapatkan diberi pewarna dan pewangi sedikit. Pewarna ditambahkan pada proses pembuatan sabun untuk menghasilkan produk sabun yang beraneka warna serta menambah karakteristik sabun. dan Pewangi ditambahkan pada proses pembuatan sabun untuk memberikan efek wangi pada produk sabun.
       Dalam percobaan ini faktor pengadukan dan suhu sangat berpengaruh selama proses pembuatan sabun transparan. Pengadukan harus dilakukan secara kontinyu dengan pengadukan secara konstan . Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menghasilkan sediaan sabun transparan yang homogen. Apabila tidak dilakukan pengadukan secara kontinyu beberapa bahan yang dicampurkan menjadi tidak merata dan menggumpal. Hal tersebut akan mempengaruhi tampilan sabun transparan. Selama pembuatan sabun berlangsung suhu harus dijaga dalam 70° C karena dipanaskan pada suhu 70° C  agar asam stearat mencair, namun pemanasan ini jangan panas karena dengan suhu terlalu panas akan mengoksidasi minyak yang menyebabkan warnanya menjadi cokelat, hal ini behubungan erat dengan bilangan peroksida yaitu nilai untuk menentukan derajat kerusakan pada minyak atau lemak yang disebabkan oleh autooksidasi dan jika tidak dijaga dalam 70°C perabaan sabun akan berminyak.
       Adapun fenomena- fenomena  yang terjadi selama  percobaan yaitu adanya perubahan-perubahan warna selama proses pemanasan dan proses safonifikasi, warna minyak yang dicampurkan dengan asam stearat awalnya berwarna jernih namun setelah ditetesi Natrium Hidroksida warna larutan menjadi kuning dan sedikit mengeras  ini menunjukan bahwa proses safonifikasi sudah hampir sempurna.








Gambar 6. Setelah proses saponifikasi
       Setelah ditambahkan etanol pada hasil saponifikasi terjadi fenomena  dimana sabun kembali larut ini disebabkan karena Natrium Hidroksida dan minyak larut dalam etanol dan setelah ditambahan glukosa dan gliserin sabun menjadi lebih bening.
       Pengujian busa dilakukan pada sisa- sisa sabun yang menempel pada gelas beker yang telah  digunakan dalam membuat sabun transparan. Sebelumnya uji busa sabun dilakukan dengan menambahkan sedikit aquades dan mengaduknya sehingga terlihat busa- busa. Busa yang terlihat dari percobaan ini memiliki struktur busa yang kecil- kecil dan terlihat sangat lembut, yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini










Gambar 7. Pengujian Busa Pada Hasil Percobaaan Sabun Transparan
Selanjutnya pengujian pH dari sabun transparan dilakukan dengan cara mencelupkan kertas indikator universal ke dalam larutan hasil pengujian busa sabun, dan setelah beberapa saat  terlihatlah warna yang tertera pada kertas indikator universal tersebut, selanjutnya warna yang tertera pada kertas indikator universal dibandingkan dengan tingkat warna yang menunjukan pH yang terdapat pada wadah indikator. Dari hasil percobaan didapatkan pH sabun sebesar 9. Dalam literatur lain, pada percobaan pembuatan sabun transparan yang dilakukan oleh praktikan lain oleh saudari  Dyah Iin mahasiswi S-1 Farmasi  Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Yaphar Semarang Timur Jawa Tengah yang dilakukan pada tanggal 14 Februari 2013 [12]. Bahwa hasil pH dari sabun yang mereka dapatkan sama yaitu sama 9. Karena pH untuk sabun adalah basa, yaitu sekitar 8-10. Sedangkan pH sabun komersial sendiri yaitu berada dalam pH sekitar 9,5 – 11.
       Tingkat kekerasan dari sabun yang dihasilkan dicari dengan menghitung tingkat kekerasannya yakni dengan cara membagi massa sabun dengan luas permukaan sabun. Dari perhitungan tersebut didapat tingkat kekerasan sabun sebesar 0,548 gr/cm2.
       Hasil warna yang didapat pada percobaan sabun transparan ini adalah orange sangat muda dan cukup transparan. Warna orange sendiri didapat dengan menambahkan sedikit pewarna merah ke dalam larutan sabun ketika suhu larutan sekitar 40°C. Adapun warna sabun sendiri kita menggunakan pewarna merah untuk menambah daya tarik sendiri bagi yang melihat, namun kita hanya menggunakan sedikit saja sehingga warnanya sedikit lebih berwana oranye, pada sabun komersial begitu banyak aneka warna untuk menarik konsumen sifat transparan sendiri didapatkan dari larutan gula yang jernih dan tak berwarna serta etanol yang ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam larutan ketika dipanaskan dengan suhu larutan sekiar 70°C, sehingga menghasilkan sabun transparan yang jernih, yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini









Gambar 8. Hasil Sabun Transparan dalam Cetakan
       Hasil sabun yang didapatkan memiliki bau seperti lemon segar, karena ketika percobaan dilakukan penambahan pewangi jeruk sebanyak 2 ml, yang ditambahkan ke dalam larutan sabun ketika suhu nya telah berada di titik 40°C. Pewangi yang digunakan dalam percobaan ini yaitu berupa pewangi buah-buahan yaitu lemon, pewangi ini banyak macamnya yang diambil dari aroma buah-buhan, dalam literature lain ada percobaan yang menggunakan pewangi aroma buah apel, dan lain-lain. Dalam sabun komersial juga pewangi sangat berpengaruh terhadap daya Tarik sabun yang dibuat dan pewangi itu begitu beraneka ragam disesuaikan dengan selera konsumen.
            Dari hasil percobaan ini, rendemen sebesar 44,77 %, Sedangkan rendemen yang didapat pada literatur lain dengan percobaan di tempat yang berbeda yang dilakukan praktikan lain oleh Dyah Iin mahasiswi S-1 Farmasi  Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Yaphar Semarang Timur Jawa Tengah yang dilakukan pada tanggal 14 Februari 2013  yaitu sebesar 45,69%, dengan komposisi yang mereka gunakan yaitu VCO 25 ml,  NaOH 30% 12,5 ml, gliserin 20m ml, gula pasir 20 gram, etanol 96% 20 gram, asam stearat 12,5 gram, NaCl 0,1 gram, Asam sitrat 0,1 gram, Pewarna cosmetic grade 0,05 gram, TEA (Coco DEA) 12,5 gram dan pewarna 1 ml. Perbedaan ini disebabkan karena dari segi komposisi bahan yang berbeda dan perlakukaan pada bahan juga berbeda sehingga menyebabkan redemen yang diperoleh juga berbeda, disamping itu perbedaan ini bisa disebkan karena massa sabun yang diperoleh dari praktikan yang berbeda tergantung tingkat ketelitian dan kecermatan praktikan selama pratikum.
















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1    Kesimpulan
       Adapun kesimpulan yang didapatkan adalah sebagai berikut :
a.       Hasil sabun transparan yang dihasilkan cukup transparan walaupun masih tergolong sabun translucent dengan massa sabun yang dihasilkan sebesar 96,5 gram
b.      Rendemen yang didapatkan sebesar 44,77 %.
c.       Dari hasil percobaan didapatkan pH sabun sebesar 9.
d.      Tingkat kekerasan sabun sebesar 0,548 gram/cm2

5.2    Saran
Adapun saran yang dapat diberikan oleh penyusun adalah sebagai berikut :
a.       Untuk percobaan sabun transparan selanjunya diharapkan menggunakan variasi bahan berupa penambahan atau penguranagan kuantitas gula yang digunakan, penggantian jenis minyak yang digunakan supaya terlihatnya perbedaan hasil yang didapatkan.
b.      Untuk percobaan sabun transparan selanjutnya diharapkan menggunakan basa alkali yang lain yaitu KOH.
c.       Untuk percobaan sabun transparan selanjutnya diharapkan menggunakan  variasi bentuk cetakana sabun agar lebih bervariasi dan menarik.

DAFTAR PUSTAKA
1.http://alfi-maysaroh.blogspot.co.id/2013/03/laporan-ujian-praktikum- kejuruan.html. Diakses pada hari Senin, tanggal 18 April 2016 pukul 19.46 WIB
2.http://digilib.its.ac.id/public/ITS-NonDegree-30226-2310030059-Chapter1.pdf    diakses pada hari Senin, tanggal 18 April 2016 pukul 20.15 WIB
3.Qisti, R. 2009. Sifat Kimia Sabun Transparan dengan Penambahan Madu pada  Konsentrasi yang Berbeda. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
4.Achmad, R. 2004. Kimia Lingkungan. Edisi 1. Yogyakarta. Andi Offset.
5.Cavitch, S. M. 2001. Choosing Yours Oil, Oil Propeties of Fatty Acid
6.http://freecochemistryone.blogspot.com/2012/11/jurnal-pembuatan-sabun-transparan.html
7.Syafruddin dan Eka Kurniasih. Aplikasi minyak nilam sebagai Bahan aditif sabun transparan antiseptik
8.Fesenden, R.J. dan Fessenden J.S. 1990. Kimia Organik Jilid II. Edisi ketiga.  Jakarta: Erlangga.
9.Yaqin, Ainoel., et al. 2014. Sabun, detergen cair, bioetanol, Pengujian angka asetil, reichert meissl dan angka Polenske. Jakarta : UI
10.http://freecochemistryone.blogspot.com/2012/11/jurnal-pembuatan-sabun-transparan.html
12. http:// Dyahiin.blogspot.com/






2 komentar:

  1. great, bisa buat referensi ini bang, lengkap banget ^^

    BalasHapus
  2. Apabila Anda mempunyai kesulitan dalam pemakaian / penggunaan chemical , atau yang berhubungan dengan chemical,oli industri, jangan sungkan untuk menghubungi, kami akan memberikan solusi Chemical yang tepat kepada Anda,mengenai masalah yang berhubungan dengan chemical.pengurangan biaya yang dijalankan
    Harga
    Terjangkau
    Cost saving
    Solusi
    Penawaran spesial


    Salam,
    (Tommy.k)
    WA:081310849918
    Email: Tommy.transcal@gmail.com
    Management
    OUR SERVICE
    Coagulan
    Flokulan
    Boiler Chemical Cleaning
    Cooling tower Chemical Cleaning
    Chiller Chemical Cleaning
    AHU, Condensor Chemical Cleaning
    Chemical Maintenance
    Waste Water Treatment Plant Industrial & Domestic (WTP/WWTP/STP)
    Degreaser & Floor Cleaner Plant
    Oli industri
    Rust remover
    Coal & feul oil additive
    Cleaning Chemical
    Lubricant
    Other Chemical
    RO Chemical
    Hand sanitizer
    Evaporator
    Oli Grease
    Karung
    Synthetic PAO.. GENLUBRIC VG 68 C-PAO
    Zinc oxide
    Thinner
    Macam 2 lem

    BalasHapus